Nayyara Residence...
Rumah Dijual di Depok Semua Wilayah
Rp 850.000.000
  • LT: 60 m2
  • LB: 70 m2
  • KT: 3
  • KM: 2
Maryam Residence...
Rumah Dijual di Kab. Bekasi Semua Wilayah
Rp 450.000.000
  • LT: 72 m2
  • LB: 66 m2
  • KT: 3
  • KM: 2
Nucifera Residence...
Rumah Dijual di Kota Bekasi Semua Wilayah
Rp 901.301.500 Nego
  • LT: 79 m2
  • LB: 69 m2
  • KT: 3
  • KM: 2
Rabbani Premiere Residence...
Rumah Dijual di Semua Wilayah Tangerang
Rp 1.233.000.000 Nego
  • LT: 94 m2
  • LB: 70 m2
  • KT: 3
  • KM: 2
Almadina Premiere Serpong...
Rumah Dijual di Semua Wilayah Tangerang
Rp 695.000.000
  • LT: 50 m2
  • LB: 50 m2
  • KT: 2
  • KM: 2
Rizqana Residence...
Rumah Dijual di Depok Semua Wilayah
Rp 858.731.875
  • LT: 62 m2
  • LB: 60 m2
  • KT: 3
  • KM: 2
Aqilla Sharia Village...
Rumah Dijual di Kab. Bekasi Semua Wilayah
Rp 180.000.000
  • LT: 60 m2
  • LB: 27 m2
  • KT: 2
  • KM: 1
Beranda » Blog » FAQ Seputar Kredit Pemilikan Rumah Secara Syariah (Part 1)

FAQ Seputar Kredit Pemilikan Rumah Secara Syariah (Part 1)

Dipublish pada 12 February 2021 | Dilihat sebanyak 254 kali | Kategori: Blog

Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait skema KPR (kredit pemilikan rumah) secara syariah.  Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat bagi para pembaca. 

 

Q : Apa yang dimaksud dengan KPR Syariah?

A : KPR Syariah adalah skema kredit pemilikan rumah yang dilakukan sesuai dengan syariat/hukum Islam sehingga dalam prosesnya tidak ada hukum-hukum Islam yang dilanggar.

 

Q : Apakah artinya KPR Syariah ini menggunakan Bank Syariah?

A : Untuk prinsip kehati-hatian, skema KPR Syariah yang paling sesuai syariah adalah tidak melalui bank syariah.  Kredit pemilikan rumah dilakukan langsung ke developer selaku penjual/pemilik barang (rumah) dengan akad jual beli.

 

Q : Kenapa KPR melalui bank konvensional riba?

A : Karena akad KPR bank konvensional adalah pembiayaan / hutang piutang.  Konsumen yang ingin memiliki rumah tapi tidak memiliki cukup uang maka dia akan datang ke bank untuk meminjam uang sejumlah plafon kredit yang disetujui.

Seperti kita sama-sama tahu bahwa apabila terdapat transaksi hutang piutang, jika ada kelebihan Rp 1 pun ketika mengembalikan, maka kelebihan itu dinamanakan RIBA.  Dan di Alquran dengan jelas disebutkan bahwa Riba adalah HARAM.

Selain itu, pada bank konvensional, jika terjadi keterlambatan bayar, ada denda yang dikenakan kepada nasabah.  Denda ini termasuk salah 1 riba yang diharamkan.

 

Q : Lalu kenapa KPR secara syariah tidak riba atau tidak haram?

A : Lagi-lagi kembali ke AKAD.  Di dalam kpr syariah murni, akad transaksi pembelian rumah adalah JUAL BELI bukan pembiayaan/hutang.  Karena akadnya adalah jual beli, maka di dalam KPR syariah murni, yang bertransaksi hanya ada 2 pihak yaitu Developer sebagai penjual dan Konsumen sebagai pembeli.

Di dalam Alquran Allah berfirman bahwa “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275).

Lain hal nya dengan KPR pada bank konvensional.  Ada 3 pihak yang terlibat dalam transaksinya yaitu :

  • Developer selaku pemilik rumah / penjual
  • Konsumen selaku pembeli
  • Bank selaku pihak ke-3 yang menyediakan dana (lembaga pembiayaaan)

Akad yang terjadi antara konsumen dengan pihak bank adalah pinjaman/hutang.  Sementara kita sama-sama tahu, ketika konsumen meminjam sejumlah uang di bank untuk membeli rumah katakanlah seharga 500juta, namun ketika dia mengembalikan di akhir tenor, uang yang harus dia kembalikan membengkak menjadi katakanlah 700juta.  Selisih 200juta ini lah yang disebut sebagai BUNGA atau RIBA.  Dan sekali lagi, RIBA itu adalah HARAM.

 

Q : Jika kita membeli rumah dengan skema KPR syariah, kenapa harga cash dengan harga kredit berbeda? Berarti artinya sama saja ada bunganya dong?  Apa bedanya dengan skema di bank konvensional kalau seperti ini?

A : Untuk menjawab pertanyaan ini, kami salin langsung artikel dari rumaysho.com yang ditulis oleh Ust. M. Abdullah Tuasikal, MSC sbb :

 

Apakah boleh ada beda harga antara tunai dan kredit? Misalnya kalau cash seharga 15 juta rupiah, sedangkan kredit ditotal menjadi 22 juta rupiah.

Intinya asalnya jual beli dengan bentuk apa pun dibolehkan termasuk jual beli dengan beda harga seperti itu antara tunai dan kredit. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275).

Begitu juga Allah berfirman,

إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka (saling ridha) di antara kalian” (QS. An Nisa’: 29).

Jika ada tambahan dalam pembayaran tertunda, itu tidaklah masalah karena keuntungan tersebut bukanlah keuntungan yang bernilai riba. Transaksi yang ada adalah transaksi jual beli namun dengan pembayaran tertunda, dan sekali lagi tidak dianggap riba.

Dari sisi lain, ridha pun tetap ditekankan pada jual beli ini. Karena pembayaran tertunda ini dijalankan oleh penjual biar bisa melariskan dagangannya. Ini sudah menunjukkan adanya keridhaan dari penjual.

Dalam hadits, kita juga akan melihat bahwa tidaklah masalah jika sampai ada beda harga antara tunai dan kredit, biaya kredit lebih tinggi dari biaya cash (tunai).

Di antara dalil yang mendukung pernyataan di atas adalah,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُ أَنْ يُجَهِّزَ جَيْشًا فَنَفِدَتِ الإِبِلُ فَأَمَرَهُ أَنْ يَأْخُذَ فِى قِلاَصِ الصَّدَقَةِ فَكَانَ يَأْخُذُ الْبَعِيرَ بِالْبَعِيرَيْنِ إِلَى إِبِلِ الصَّدَقَةِ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah untuk menyiapkan pasukan lantas unta berjalan di tengah-tengah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil unta yang masih muda dan masih kuat yang sebagai zakat. Beliau ketika itu menjadikan satu unta menjadi dua unta sebagai kompensasi tempo waktu yang ditunggu untuk unta zakat. (HR. Abu Daud no. 3357 dan Ahmad 2: 171. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan)

Adapun hadits yang menyebutkan,

مَنْ بَاعَ بَيْعَتَيْنِ فِى بَيْعَةٍ فَلَهُ أَوْكَسُهُمَا أَوِ الرِّبَا

Siapa yang menjual dengan dua transaksi, maka ia diberi rugi ataukah diberi riba.” (HR. Abu Daud no. 3461 dan Al Baihaqi 5: 343. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Sebagian ulama berdalil dengan hadits ini tentang larangan jual beli beda harga antara cash dan kredit.

Syaikh Abu Malik berkata, “Taruhlah hadits tersebut shahih, bukanlah yang dimaksud diharamkannya jual beli jika dibeli tertunda biayanya lebih tinggi dari beli tunai. Yang tepat, yang dimaksud hadits tersebut adalah jika ada dua orang yang bertransaksi berpisah lantas tidak menetapkan antara dua harga yang diberi pilihan. Jadi menetapkan beda harga antara dua transaksi tersebut bukanlah transaksi riba.” (Shahih Fiqh Sunnah, 4: 354).

Ibnul Qayyim juga memberikan jawaban, “Larangan hadits bukanlah larangan jika dibeli tunai lebih murah, yaitu 50 dan jika dibeli dengan pembiayaan tertunda lebih mahal yaitu 100. Itu tidak termasuk qimar (judi), tidak termasuk jahalah (jual beli yang tidak jelas), tidak termasuk gharar (yang ujung akhirnya tidak jelas) dan tidak termasuk jual beli rusak lainnya. Penjual memberikan pilihan pada pembeli kala itu untuk memilih di antara dua transaksi yang ada (yaitu ingin tunai ataukah kredit, -pen).” (I’lamul Muwaqi’in, 2: 149-150).

Intinya, jual beli kredit tidaklah masalah walau lebih mahal dari cash (tunai). Yang masalah nantinya jika hakekat jual beli adalah utang piutang seperti yang terjadi pada jual beli leasing kendaraan dan kredit rumah KPR.

Silakan baca detail nya pada tautan di web Rumaysho.com, klik disini.

*****

Jadi inti dari tulisan di atas adalah bahwa BOLEH BERBEDA HARGA ANTARA CASH DENGAN KREDIT dengan syarat :

  1. Akad transaksi adalah jual beli bukan hutang piutang
  2. Kedua belah pihak (penjual dan pembeli) saling ridho
  3. Harus disepakati dalam akad tertulis di awal antara penjual dan pembeli. Kesepakatan yang dimaksud mencakup :
  • Model pembayaran apa : cash atau kredit. Kredit pun juga harus ditulis berapa lama waktu yang disepakati, apakah 5, 7 atau 10thn atau berapapun waktu yang disepakati.
  • Harga yang disepakati. Jika konsumen memilih cash maka harus ditulis harga cash nya.  Demikian juga jika kredit harus ditulis harga kreditnya.
  • Tidak boleh berubah di tengah akad. Misal, konsumen telah sepakat di dalam akad membeli rumah dengan tenor 5tahun seharga 700 juta.  Kemudian di tengah waktu misal di tahun ke 3 konsumen ingin merubah tenor menjadi 10thn, maka ini tidak boleh dilakukan.  Akad awal harus dibatalkan terlebih dahulu kemudian akan dibuat akad ulang sesuai dengan permintaan konsumen

 

BERSAMBUNG KE PART 2.

SILAKAN KLIK DISINI UNTUK MEMBACA PART 2.

Bagikan informasi tentang FAQ Seputar Kredit Pemilikan Rumah Secara Syariah (Part 1) kepada teman atau kerabat Anda.

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Mungkin Anda tertarik dengan properti berikut ini:

Maryam Residence...

Rumah Dijual di Kab. Bekasi Semua Wilayah
Rp 450.000.000
  • L.Tanah: 72 m2
  • L. Bangunan: 66 m2
  • K. Tidur: 3
  • K. Mandi: 2

Kencana Hills Cilebut...

Rumah Dijual di Kab. Bogor Semua Wilayah
Rp 395.000.000
  • L.Tanah: 72 m2
  • L. Bangunan: 41 m2
  • K. Tidur: 2
  • K. Mandi: 1

Izza Residence...

Rumah Dijual di Kota Bekasi Semua Wilayah
Rp 794.000.000 Nego
  • L.Tanah: 93 m2
  • L. Bangunan: 55 m2
  • K. Tidur: 2
  • K. Mandi: 1

Apartkos Grand Royal Radar Bar...

Property Lainnya Dijual di Kota Bogor Semua Wilayah
Rp 995.000.000
  • L.Tanah: 72 m2
  • L. Bangunan: 190 m2
  • K. Tidur: 10
  • K. Mandi: 12

Mulia Residence...

Rumah Dijual di Depok Semua Wilayah
Rp 580.750.000
  • L.Tanah: 81 m2
  • L. Bangunan: 60 m2
  • K. Tidur: 3
  • K. Mandi: 2

Gardenia Village Ciracas...

Rumah Dijual di Jakarta Semua Wilayah
Rp 1.636.000.000
  • L.Tanah: 71 m2
  • L. Bangunan: 90 m2
  • K. Tidur: 3
  • K. Mandi: 2
SIDEBAR
Jual beli rumah jadi mudah & cepat. Hubungi kami!